YouTube Facebook Twitter RSS
23 Jul 2018, 0

Ekonomi

Presiden Joko Widodo Resmikan Megaproyek PLTU Bernilai 5,87 Miliar Dolar

Thursday, 05 October 2017 | View : 242

siarjustisia.com-JAKARTA.

Presiden Republik Indonesia (RI) ke-7, Ir. H. Joko Widodo yang akrab disapa "Jokowi" didampingi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan di Provinsi Banten, Kamis (5/10/2017), meresmikan megaproyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berkapasitas total 4.660 MW dengan nilai investasi keseluruhan 5,87 miliar dolar AS.

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama Kementerian ESDM Dadan Kusdiana dalam keterangannya di Jakarta, mengatakan bahwa pada kesempatan yang sama, Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga meninjau progres pembangunan terminal batubara berkapasitas 20 juta ton di Banten senilai 145 juta dolar AS.

"Kalau ditotal, keempat proyek ini bernilai 6,015 miliar dolar AS," katanya.

Menurut dia, peresmian ketiga PLTU tersebut terdiri atas peletakan batu pertama (groundbreaking) dua proyek yakni PLTU Jawa 7 berkapasitas 2x1.000 MW dan PLTU 9&10 juga 2x1.000 MW, serta satu peresmian pengoperasian secara komersial (commercial on date/COD) PLTU IPP Banten 660 MW.

Ketiga proyek PLTU itu, lanjutnya, masuk program 35.000 MW.

"Sementara terminal batubara 20 juta ton akan memperkuat dan mengefektifkan rantai pasok batubara PLTU di wilayah Jawa bagian Barat," ujarnya.

Dadan Kusdiana merinci proyek PLTU Jawa 7 bernilai investasi 1,88 miliar dolar dengan rencana COD untuk unit 1 pada April 2020 dan unit 2 pada Oktober 2020.

Harga jual listrik ke PT. PLN (Persero) disepakati 4,21 sen dolar/kWh.

Proyek, yang menggunakan skema bisnis "build, own, operate, and transfer" (BOOT) selama 25 tahun itu berteknologi "ultra supercritical boiler" dengan bahan bakar batubara kalori rendah antara 4.000-4.600 kkal/kg "ash received".

"Jenis pembangkit ini dipilih karena memiliki efisiensi yang tinggi dan lebih ramah lingkungan," jelas Dadan Kusdiana.

Selanjutnya, menurut dia, PLTU Jawa 9&10 dengan skema listrik swasta (IPP) dibangun disebelah PLTU Suralaya 1-8, Banten dengan nilai investasi 3 miliar dolar.

PLTU itu dibangun dengan skema penugasan PLN kepada anak perusahaan, PT. Indonesia Power, sesuai Perpres Nomor 19 Tahun 2017.

Proyek BOOT itu juga menggunakan teknologi "ultra supercritical".

"Diperkirakan COD PLTU 9&10 pada 2022 dengan kontrak 25 tahun dan Biaya Pokok Produksi (BPP) 5,1 sen dolar/kWh," terangnya.

Untuk PLTU Banten 660 MW, tambah Dadan Kusdiana, merupakan proyek IPP dengan pengembang PT. Lestari Banten Energi.

Proyek BOOT selama 25 tahun itu menggunakan teknologi "supercritical" dan telah berproduksi sejak Maret 2017.

"Harga jual ke PLN disepakati 5,99 sen dolar/kWh dengan investasi 990 juta dolar," sambungnya.

Terakhir, Dadan Kusdiana mengatakan, proyek terminal batubara, yang ditinjau Presiden Joko Widodo, dibangun anak perusahaan PLN, PT. PLN Batubara, bersama Gama Corp.

"Lokasi terminal ini bersebelahan dengan PLTU Jawa 7 dan ditargetkan COD bersamaan dengan PLTU," katanya.

Terminal batubara itu, menurut dia, juga berfungsi sebagai stok darurat PLTU di luar Jawa bagian Barat, menjaga keamanan pasokan batubara saat cuaca buruk karena penggunaan kapal (vessel), pengurangan biaya pembangunan terminal di masing-masing PLTU, dan efisiensi biaya transportasi batubara dari perubahan barge ke vessel.

"Terminal batubara ini memerlukan lahan sekitar 20 hektare dengan nilai investasi 145 juta dolar," paparnya.

Dadan Kusdiana menambahkan proyek-proyek tersebut akan memberikan manfaat besar bagi masyarakat dan mengefisienkan biaya pembangkitan listrik, sehingga harga listrik lebih terjangkau masyarakat.

Untuk mempercepat proyek 35.000 MW, pemerintah telah menerbitkan Perpres Nomor 14 Tahun 2017, yang merupakan Perubahan Perpres Nomor 4 Tahun 2016, tentang Pembangunan Infrastruktur Ketenagalistrikan.

"Perpres ini memberikan jaminan kepada dunia usaha bahwa pemerintah terus berkomitmen mendukung pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan berupa penjaminan, percepatan perizinan dan nonperizinan, penyediaan energi primer, tata ruang, penyediaan tanah, dan penyelesaian hambatan dan permasalahan lainnya," katanya.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, status program 35.000 MW hingga 15 September 2017 adalah tahap COD/komisioning 773 MW, konstruksi 15.266 MW, PPA belum konstruksi 10.255 MW, pengadaan 4.563 MW, dan tahap perencanaan 6.970 MW.

"Sampai 2019, diharapkan semua proyek 35.000 MW sudah terkontrak dan juga ada tambahan 17.000 MW dibandingkan akhir 2014," kata Dadan Kusdiana.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) usai meninjau pembangunan Waduk Karian di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, mengatakan bahwa bendungan di Karian itu bisa menghasilkan listrik 1,8 Megawatt.

"Ini bisa tampung 314 juta kubik air yang dibendung dari Sungai Ciujung, Sungai Ciherang yang kita harapkan nanti dengan waduk ini bisa mengairi lahan kurang lebih 22 ribu hektare di Provinsi Banten dan yang kedua bisa jadi air baku bagi Provinsi Banten dan Jakarta. Serta yang ketiga juga ada PLTA di sini nantinya," kata Kepala Negara Jokowi pada Rabu (4/10/2017).

Mantan Wali Kota Surakarta ini menjelaskan target pembangunan waduk tersebut maju dari rencana awal tahun 2020 menjadi Juli 2019.

Waduk Karian yang pembangunannya sudah direncanakan sejak 1980-an, mulai digarap oleh Kabinet Kerja sejak tiga tahun lalu dan telah tercapai 47,14 persen.

"Waduk ini adalah waduk terbesar ketiga setelah Jatiluhur dan Jatigede, kemudian Waduk Karian," kata mantan Gubernur DKI Jakarta itu yang menambahkan waduk lain juga tengah dibangun di Provinsi Banten, yaitu Waduk Sindang Hela.

Selain itu, sejumlah pejabat yang turut mendampingi Presiden dalam kunjungannya, yaitu Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Ir. Mochamad Basoeki Hadimoeljono, M.Sc., Ph.D. dan Kepala Staf Presiden Drs. Teten Masduki.

Bendungan Karian akan mengairi Daerah Irigasi Ciujung yang memiliki luas 22.000 hektare.

Pembangunan waduk tersebut merupakan salah satu Program Nawa Cita untuk mewujudkan kedaulatan pangan dan ketahanan air.

Waduk akan memasok air untuk kebutuhan rumah-tangga, perkotaan dan industri di 7 kota/kabupaten yaitu Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, Kabupaten Lebak, Kabupaten Tangerang dan wilayah DKI Jakarta sebesar 9,1 m3/detik melalui Karian-Serpong Conveyance System (KSCS).

Aliran airnya juga diharapkan memenuhi kebutuhan air baku Kota Cilegon dan Kabupaten Serang sebesar 5,5 m3/detik. (ant/jos)

See Also

Babinsa 12/Mranggen Bantu Petani Sukseskan Swasembada Pangan
Dandim 0716/Demak Bersama LBB Panen Raya Dan Masyarakat Desa Ruwit
Panen Padi L-58 Aromatik Kodim 0716/Demak Dan Lumbung Banyu Bumi
Dandim 0716/Demak Bersama Masyarakat Panen Raya Demlot
Kodim 0716/Demak Buka Stand Pasar Murah
Koperasi Dinilai Penting Untuk Menunjang Pengembangan Usaha Batik Bakaran
Babinsa Kodim 0716/Demak Perkuat Alsintan Dengan Diklat
Mengoptimalkan LTT Dengan Pemanfaatan Alsintan
Kembangkan Jenis Usaha Yang Unik Dan Berbeda
Harga Pertalite Naik Rp 200 Per Liter
Usaha Sergab Kodim 0716/Demak Di Kala HPP Lebih Rendah Dari Pasar
Bertebaran Padi Di Halaman Kodim 0716/Demak
Bank Sampah Jadi Berkah Bagi Anggota Kodim 0716/Demak
Kodim 0716/Demak Terapkan Teknologi Baru Di Bidang Pertanian
Tim Sergab Kodim 0716/Demak Terus Genjot Serap Beras Ke Bulog
Cegah Penyelewengan, Babinsa Dampingi Pembagian Beras Rastra Yang Layak Konsumsi
Dokter Terkaya Amerika Serikat Beli Surat Kabar LA Times Rp 6,8 Triliun
Dandim 0716/Demak Panen Raya Di Ds. Mijen
Danramil 09/Karangtengah Berharap Pendistribusian Pupuk Tepat Sasaran
Danramil 03/Wonosalam Bersama Forkopimcam Panen Raya Padi
Presiden Joko Widodo Tinjau Proyek Padat Karya Di Dharmasraya
Pasar Saham Australia Dibuka Turun Tajam
5 Maskapai Penerbangan Terbaik Di Dunia
Penjualan Mobil Terbanyak Tahun 2017
Bebas Bea Masuk Belanja Dari Luar Negeri Naik
jQuery Slider

Comments

Archives :20182017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 6.311.439 Since: 07.04.14 | 0.6852 sec