YouTube Facebook Twitter RSS
21 Apr 2018, 0

Internasional

FBI Tegaskan Tak Ada Bukti Penembakan Las Vegas Terkait Terorisme

Thursday, 05 October 2017 | View : 69

siarjustisia.com-LAS VEGAS.

Tidak ada bukti hingga saat ini yang menunjukkan bahwa pembunuhan massal di Las Vegas, Nevada, Amerika Serikat (AS), pekan ini adalah aksi terorisme, kata personel Biro Investigasi Federal (FBI) dalam konferensi pers, Rabu (4/10/2017).

Agen Khusus FBI yang bertanggung jawab atas peristiwa itu, Aaron Rouse, juga mengatakan bahwa pihak berwenang Federal telah memeriksa kekasih Stephen Paddock, pelaku penembakan, dan tidak ada seorang pun yang telah ditahan sebagai kaki tangan yang dicurigai.

Pasangan Stephen Paddock, Marilou Danley (64 tahun), kembali ke Amerika Serikat (AS) pada Selasa (3/10/2017) larut malam dan merupakan "orang yang perlu dikorek keterangannya" dalam penyelidikan tragedi yang menewaskan 58 orang itu.

Keluarga Marilou Danley di Filipina mengatakan kepada para wartawan bahwa pasangan Stephen Paddock itu merasa dirinya tidak bersalah dan tidak tahu apa-apa menjelang serangan terjadi.

Lebih dari 500 orang terluka, sejumlah di antara mereka karena terinjak-injak di tengah kepanikan massal, ketika Stephen Paddok (64 tahun) memuntahkan rentetan peluru dari kamar hotelnya di lantai atas selama sekitar 10 menit pada Minggu (1/10/2017) malam.

Ia kemudian membunuh dirinya sendiri sebelum polisi mendobrak pintu kamarnya. Di kamar itu, para personel kepolisian menemukan sekitar 23 senjata. Aparat keamanan menemukan sejumlah senjata api, bom dan amunisi dari rumah milik pria pelaku penembakan di Las Vegas, Nevada, Amerika Serikat (AS), Stephen Paddock, yang menewaskan 59 orang.

Sheriff Joseph Lombardo mengatakan bahwa petugas yang menggeledah rumah pelaku di Mesquite, Nevada, Senin (2/10/2017) waktu setempat, menemukan "lebih dari 18 senjata api tambahan, beberapa bahan peledak dan ribuan amunisi, bersama dengan beberapa perangkat elektronik yang sedang kami evaluasi saat ini."

Sheriff Joseph Lombardo mengemukakan bahwa jumlah korban tewas akibat serangan pada Minggu (1/10/2017) malam di sebuah konser terbuka di Vegas Strip bertambah menjadi 59 orang, sementara 527 orang luka-luka.

Dia melaporkan bahwa petugas penegak hukum sedang bekerja di empat tempat kejahatan terpisah: kamar Stephen Paddock di Hotel Mandalay Bay, tempat konser, rumah pria bersenjata itu di Mesquite dan rumahnya yang lain di Nevada Utara yang siap diserbu oleh tim khusus antiteror AS (Special Weapons And Tactics/SWAT).

Penemuan senjata api di Mesquite terjadi setelah terlacaknya 16 senjata api di ruang hotel Vegas, tempat Stephen Paddock meluncurkans serangan mematikan sebelum bunuh diri.

Sheriff Joseph Lombardo mengatakan bahwa penyidik menemukan sejumlah bom di rumahnya di Mesquite, serta amonium nitrat, sejenis pupuk, di dalam mobil pria bersenjata itu.

Saat ditanya apakah mereka menemukan barang lain yang dapat memperkuat klaim pertanggungjawaban kelompok teroris Negara Islam Suriah dan Irak (ISIS) atau Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) atau Negara Islam atau Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) atau Islamic State (IS) atau The Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL) atau Islamic State of Iraq and Syria atau Islamic State of Iraq and al-Sham (ISIS) yang lebih dikenal dengan Islamic State (IS) atau Negara Islam (IS), Sheriff Joseph Lombardo menyatakan tidak ada bukti.

"Tidak, kami tidak memiliki bukti tentang itu," demikian Joseph Lombardo, layaknya dilaporkan kantor berita AFP.

Presiden Amerika Serikat (AS) ke-45, Donald John Trump pada Rabu (4/10/2017) tiba di Las Vegas, Nevada, Amerika Serikat (AS), untuk memberikan penghormatan dan dukungan kepada para petugas penyelamat. Kedatangannya itu menandai kali pertama ia, sebagai presiden, harus menghadapi masalah penembakan massal skala besar.

Para penyelidik telah memusatkan perhatian pada Marilou Danley (62 tahun), yang pernah tinggal bersama Stephen Paddock dan meninggalkan Amerika Serikat (AS) menuju Filipina pada September.

Di Bandar Udara Internasional Los Angeles, FBI mendatangi pesawat yang membawa Marilou Danley dari Manila dan kemudian membawa perempuan itu untuk menjalani pemeriksaan, kata dua pejabat AS yang mengetahui kasus itu.

Hingga Rabu (4/10/2017) siang, tidak ada indikasi bahwa Marilou Danley mengetahui rencana Stephen Paddock untuk melakukan serangan, kata para pejabat itu.

FBI menanyakan kepada Marilou Danley soal persenjataan yang dibeli Stephen Paddock, tranfer uang senilai 100.000 dolar AS ke sebuah bank Filipina yang diperkirakan diperuntukkan bagi Marilou Danley, serta soal apakah ia melihat ada perubahan perilaku pada Stephen Paddock sebelum Marilou Danley pergi meninggalkan AS.

Saudara laki-laki Stephen Paddock, Eric, mengatakan kepada para wartawan bahwa transfer uang sebesar 100.000 dolar itu merupakan bukti bahwa "Steve mengurusi orang-orang yang dicintainya," dan bahwa tampaknya Stephen Paddock ingin melindungi Marilou Danley dengan mengirim uang itu ke luar negeri sebelum serangan.

Marilou Danley tiba di Manila pada 15 September, terbang ke Hong Kong pada 22 September dan kembali ke Manila pada 25 September. Ia berada di Manila sampai ketika ia terbang ke Los Angeles pada Selasa (3/10/2017) malam, menurut keterangan seorang petugas imigrasi Filipina, demikian Reuters melaporkan. (afp/resuters)

See Also

Malaysia Ringkus 7 Anggota Terduga Jaringan IS
Sekolah Di Ghouta Timur Dihantam Rudal
Pasar Di Suriah Dihantam Roket
Arab Saudi Dan Inggris Tandatangani Kesepakatan Pembelian Jet Tempur
Kementerian Pertanian Cegah Rock Melon Australia Masuk Indonesia
Presiden Suriah Tegaskan Serangan Di Ghouta Timur Akan Terus Berlanjut
Skandal Seks Wakil PM Australia Dan Staf Picu Usulan Larangan
Hujan Salju Tebal Lumpuhkan Paris
PBB Selidiki Dugaan Penggunaan Senjata Kimia Di Suriah
Kurdi Irak Tahan 4.000 Ekstremis
Kereta Tabrak Ke Kereta Di Amerika Serikat
Lima Tempat Romantis Rayakan Valentine Di Perth
Fosil Dinosaurus Baru Ditemukan Di Gurun Mesir
Pemimpin Oposisi Zimbabwe Tewas Dalam Kecelakaan Helikopter Di Amerika Serikat
2 WNI Sandera Abu Sayyaf Dibebaskan
Bom Ganda Bunuh Diri Tewaskan 38 Orang Di Baghdad
Myanmar Bebaskan Dua Jurnalis Asing
Serangan Gereja Di Kairo Tewaskan 10 Orang
Stasiun Kereta Baru Di Yerusalem Akan Dinamai Donald John Trump
Ledakan Di Kantor Berita Afghanistan
Israel Pesan Ratusan Jet Temput Berteknologi Mutakhir
Kaisar Jepang Akihito Berulang Tahun
128 Negara Anggota PBB Tolak Keputusan Donald Trump Tentang Yerusalem
Tekanan Berat Bintang K-pop Shinee Kim Jong-hyun
Wakil PM Inggris Diminta Mundur Terkait Skandal Pornografi
jQuery Slider

Comments

  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 5.753.670 Since: 07.04.14 | 0.6029 sec