YouTube Facebook Twitter RSS
20 Jan 2018, 0

Internasional

Konvoi Pertama Militer Turki Masuki Idlib

Friday, 13 October 2017 | View : 196
Tags : Suriah, Turki

siarjustisia.com-BEIRUT.

Konvoi pertama militer Turki memasuki wilayah Provinsi Idlib di Suriah pada Kamis (12/10/2017) menurut dua pemberontak dan seorang saksi mata.

Konvoi meliputi sekitar 30 kendaraan militer menurut Abu Khairo, seorang komandan kelompok pemberontak Tentara Pembebasan Suriah (FSA) yang bermarkas di daerah itu.

Rombongan kendaraan militer itu memasuki wilayah Suriah di dekat persimpangan Bab al-Hawa menurut seorang warga sipil yang menyaksikannya.

Mereka menuju ke Sheikh Barakat, daerah puncak bukit yang menghadap ke bagian luas wilayah Suriah Barat Laut yang dikuasai oleh pemberontak serta daerah Afrin yang dikuasai oleh milisi YPG Kurdi.

Konvoi tersebut dikawal oleh petempur dari Tahrir al Sham, aliansi kelompok yang meliputi kelompok bekas afiliasi al-Qaida yang sebelumnya dikenal sebagai Front Nusra, kata Abu Khairo sebagaimana dikutip kantor berita Reuters.

"Rombongan tentara Turki masuk di bawah perlindungan Tahrir al-Sham untuk mengambil posisi di garis depan dengan YPG," kata petempur FSA lain di daerah tersebut.

Kendaraan militer Turki, ambulans dan pengangkut bahan bakar terlihat dalam foto-foto yang diterbitkan oleh kantor berita Turki, Anadolu, Kamis (12/10/2017), ketika rombongan berada di sebuah desa dekat perbatasan Turki yang berseberangan dengan Bab al-Hawa.

Turki pada Sabtu (7/10/2017) menyatakan akan melakukan sebuah operasi militer di Idlib dan sekitarnya sebagai bagian dari kesepakatan yang dicapai dengan Rusia dan Iran bulan lalu untuk menerapkan satu zona "de-eskalasi" di Suriah Barat Laut.

Zona tersebut merupakan salah satu dari beberapa wilayah yang disiapkan di sekitar Suriah untuk mengurangi peperangan antar pemberontak, termasuk kelompok yang didukung oleh Turki, dan pasukan pemerintah yang didukung Rusia dan Iran.

Tahrir al-Sham menentang kesepakatan de-eskalasi dengan pemerintah itu, namun perannya dalam mengawal regu pengintai Turki pada Minggu (8/10/2017) menunjukkan bahwa tidak mungkin terjadi perselisihan militer langsung antara para petempur pemberontak dan Turki.

Operasi militer Turki di Idlib juga akan melibatkan kelompok pemberontak Suriah yang ikut ambil bagian dalam operasi Perisai Efrat, yang dilancarkan oleh Ankara di Suriah pada tahun lalu, kata Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Sabtu (7/10/2017).

Keputusan Turki untuk meluncurkan operasi Perisai Efrat tahun lalu sebagian ditujukan untuk mengusir kelompok ISIS dari wilayah perbatasannya, selain untuk menghentikan kelompok YPG Kurdi mendapatkan lebih banyak kendali.

Berkat dukungan Amerika Serikat dalam perang melawan kelompok teroris Negara Islam Suriah dan Irak (ISIS) atau Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) atau Negara Islam atau Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) atau Islamic State (IS) atau The Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL) atau Islamic State of Iraq and Syria atau Islamic State of Iraq and al-Sham (ISIS) yang lebih dikenal dengan Islamic State (IS) atau Negara Islam (IS), YPG telah merebut sebagian besar wilayah Suriah timur laut dan berusaha menghubungkan wilayah-wilayah itu dengan wilayah pusat kendalinya di Afrin.

Turki menganggap YPG sebagai perpanjangan tangan dari Partai Pekerja Kurdistan (PKK) yang memberontak di wilayah Tenggara negaranya.

Sebelumnya, satu tim kecil tentara pengintai Turki melintasi perbatasan menuju provinsi Idlib, Suriah pada Minggu (8/10/2017), kata seorang anggota pemberontak senior Suriah, menjelang rencana pengerahan pemberontak yang didukung Turki di wilayah itu.

Sejumlah kendaraan perang Turki yang masuk ke daerah itu diawasi kelompok pemberontak saingan, kelompok garis keras Tahrir al-Sham, mereka melawan rencana operasi itu, kata sumber setempat.

Sebelumnya, para pegaris keras itu dan militer Turki terlibat baku tembak di daerah dekat perbatasan, menggarisbawahi ketegangan di saat pasukan Turki dan kelompok pemberontak dukungannya tengah bersiap untuk memasuki Idlib.

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, Sabtu, mengatakan, pemberontak Suriah yang didukung pasukan Turki akan melakukan operasi di Provinsi Idlib dan memperingatkan bahwa Turki tidak akan membiarkan "koridor teroris" di dekat perbatasannya.

Perdana Menteri Turki, Binali Yildirim, menekankan penting membuat zona penurunan ketegangan di dekat perbatasan.

"Kami akan memastikan keamanan di Idlib, dan akan bekerja sama dengan Rusia," kata Binali Yildirim.

Operasi tersebut terjadi menyusul terciptanya kesepakatan antara Turki dan Sekutu Presiden Bashar al-Assad, Rusia dan Iran untuk menetapkan zona "penurunan ketegangan" di daerah Idlib dan sekitarnya guna mengurangi peperangan di kawasan tersebut, namun kesepakatan itu tidak membahas Tahrir al-Sham.

Seorang penduduk setempat dan pemberontak lokal lainnya mengatakan bahwa mereka telah melihat kendaraan militer Turki memasuki Idlib dan kemudian melakukan perjalanan di bawah pengawasan Tahrir al-Sham di sepanjang jalan.

Seorang pemberontak senior Suriah mengatakan tim pengintai itu menuju ke Sheikh Barakat, sebuah lokasi yang dapat memantau daerah pemberontak di Provinsi Aleppo, bersebelahan dengan Idlib, dan daerah yang dikuasai Kurdi di Afrin. (reuters)

See Also

2 WNI Yang Disandera Abu Sayyaf Dibebaskan
Bom Ganda Bunuh Diri Tewaskan 38 Orang Di Baghdad
Myanmar Bebaskan Dua Jurnalis Asing
Serangan Gereja Di Kairo Tewaskan 10 Orang
Stasiun Kereta Baru Di Yerusalem Akan Dinamai Donald John Trump
Ledakan Di Kantor Berita Afghanistan
Israel Pesan Ratusan Jet Temput Berteknologi Mutakhir
Kaisar Jepang Akihito Berulang Tahun
128 Negara Anggota PBB Tolak Keputusan Donald Trump Tentang Yerusalem
Tekanan Berat Bintang K-pop Shinee Kim Jong-hyun
Wakil PM Inggris Diminta Mundur Terkait Skandal Pornografi
Turki Sesalkan Veto AS Soal Yerusalem
Perwakilan Nahdlatul Ulama Dan Wahid Foundation Temui Dubes Amerika Serikat
Parlemen Australia Setuju Pernikahan Sesama Jenis
Pidato Lengkap Donald Trump Saat Akui Yerusalem Ibu Kota Israel
Amerika Serikat Segera Memulai Proses Pemindahan Kedubesnya
Inggris Tidak Setuju Dengan Keputusan AS Soal Jerusalem
Amerika Serikat Akan Memulai Rencana Pemindahan Kedutaan Besarnya
Yordania Tolak Sikap Donald Trump Soal Yerusalem
Warga Korea Utara Gelar Perayaan Massal Uji Coba Rudal Hwasong 15
Mantan Penasihat Keamanan Presiden AS Didakwa Bohongi FBI Terkait Rusia
Militer Suriah Tembakkan Rudal Ke Jet Tempur Israel
Badai Hujan Dan Petir Berlanjut Di Melbourne
Warga AS Dipenjara Seumur Hidup Atas Pembunuhan Wanita Jepang
Kaisar Jepang Akihito Akan Turun Takhta 30 April 2019
jQuery Slider

Comments

Archives :20182017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 5.221.453 Since: 07.04.14 | 0.9892 sec