YouTube Facebook Twitter RSS
18 Nov 2017, 0

Internasional

Tiga Juta Masyarakat Kongo Terancam Kelaparan

Monday, 30 October 2017 | View : 16

siarjustisia.com-KASAI.

Warga di Republik Kongo terancam kelaparan menyusul pecahnya konflik di Provinsi Kasai. Direktur eksekutif Program Pangan Dunia David Beasley mengatakan, lebih dari tiga juta warga Kongo dihantui kelaparan.

"Ratusan ribu anak-anak terancam meninggal dalam beberapa bulan ke depan jika bantuan tak segera datang," jelas David Beasley seperti diwartakan BBC, Minggu (29/10/2017).

Dia menyebut peristiwa yang menimpa Provinsi Kasai merupakan sebuah bencana. Dia mengatakan, kasus malnutrisi kerap menghantui anak-anak bersama dengan permasalahan pertumbuhan.

Dia mengatakan, Program Pangan Dunia (WFP) hanya memiliki satu persen dana untuk membantu warga Kasai.

"Jika menunggu beberapa minggu lagi sebelum menerima dana untuk mengadakan makanan, saya tidak bisa membayangkan betapa mengerikan situasinya," terangnya.

Sebelumnya, kekerasan meletus pada Agustus tahun lalu menyusul kematian seorang pemimpin lokal dalam bentrokan dengan kepolisian. Peristiwa tersebut memaksa 1,5 juta orang mengungsi dari rumah mereka. Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak. 

Anak-anak di Republik Demokratik Kongo harus menanggung beban dari kekerasan yang terus meningkat antara pasukan keamanan Kongo dan kelompok bersenjata di negara tersebut. Mereka akhirnya memutuskan untuk mencari perlindungan hingga ke Zambia.

Senin (9/10/2017), Badan pengungsi PBB, UNHCR, menyatakan, dari 3.360 pengungsi yang telah melarikan diri ke Zambia Utara sejak 30 Agustus lalu, sebanyak 60 persen di antaranya adalah anak-anak. Mereka harus berjalan sejauh ratusan kilometer selama berminggu-minggu.

Banyak dari mereka yang trauma dan menunjukkan tanda-tanda malnutrisi. Meskipun menempuh perjalanan berbahaya, mereka mengatakan melarikan diri dari negara mereka adalah satu-satunya pilihan.

"Orang tua saya terbunuh saat desa diserang. Satu-satunya yang bisa saya lakukan adalah lari dan meninggalkan negara ini," ujar Leon Musongo, seorang pengungsi anak Kongo, kepada Aljazirah.

"Saya diberitahu bahwa Zambia aman. Orang-orang jahat tidak akan mengikuti saya di sini, Saya telah lama berjalan, saya merindukan orang tua saya, tapi setidaknya saya hidup dan aman di Zambia," tambah dia.

Sebagian besar pengungsi dari Kongo dibawa ke Pusat Transit Kenani di Distrik Nchelenge, yang berjarak 90 km dari perbatasan. Di sini Pemerintah Zambia bekerja dengan lembaga bantuan kemanusiaan untuk membantu mereka.

Sejauh ini, 4.000 pengungsi telah terdaftar di kamp pengungsian di Zambia Utara.

Haru Mutasa dari Aljazirah, yang melaporkan dari Kamponge, mengatakan kamp pengungsian tersebut penuh dengan sangat cepat dan membutuhkan bantuan kemanusiaan dengan jumlah yang besar.

"Beberapa anak yang datang sendiri, telah menunggu di desa terdekat. Mereka berharap orang tua mereka mengikuti. Mereka bisa menunggu berhari-hari atau berminggu-minggu. Terkadang, mereka tidak pernah mendengar kabar dari keluarga mereka lagi," papar Haru Mutasa.

Pekerja bantuan kemanusiaan mengatakan, anak-anak yang tidak didampingi harus ditempatkan di rumah asuh. Kebanyakan dari anak-anak itu menderita trauma akibat kekerasan yang terjadi di negara mereka. "Anda mendapatkan anak-anak yang melarikan diri karena mereka telah kehilangan orang tua mereka, dan mereka melihat orang tua mereka terbunuh," kata Anna Leer dari UNHCR kepada Aljazirah.

Badan perlindungan anak-anak PBB, UNICEF, mengatakan pada Juli ini, kekerasan di wilayah Kasai di Kongo telah mengungsikan setidaknya 850 ribu anak-anak. Jumlah orang yang mengungsi akibat konflik di Kongo hampir dua kali lipat dalam enam bulan terakhir, menjadi 3,8 juta.

Di Kasai, kekerasan meletus pada September lalu setelah kematian seorang pemimpin suku yang dikenal sebagai Kamwina Nsapu. Kamwina Nsapu memberontak melawan otoritas Pemerintahan Presiden Joseph Kabila di Kinshasa dan perwakilan lokalnya.

Pembunuhan tersebut memicu kekerasan, termasuk dugaan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), seperti pembunuhan di luar proses hukum, pemerkosaan, penyiksaan dan penggunaan tentara anak-anak. PBB merilis sebuah laporan pada Agustus lalu, yang menunjukkan lebih dari 250 orang, termasuk 62 anak-anak, tewas di Kongo dari pertengahan Maret sampai pertengahan Juni 2017 ini.

Menurut Dewan Pengungsi Norwegia, di Provinsi Tanganyika, bentrokan antara kelompok bersenjata juga telah memaksa ribuan orang untuk melarikan diri, sama halnya dengan wilayah Kivu. (bbc/aljazirah)

See Also

Polisi LA Selidiki Tuduhan Pemerkosaan Terhadap Ed Westwick
Polri Benarkan Penangkapan WNI Isteri Tokoh ISIS Marawi
Sultan Selangor Kecewa Terhadap Mahathir Mohamad Soal Bugis
PBB Anugerahi Surabaya Penghargaan Global Green City
Imigran Asal Uzbekistan Tersangka Pembunuh Delapan Orang Di New York
Delapan Orang Tewas Dalam Aksi Teror Di New York
Dua Tewas Dalam Penembakan Di Grambling State University
Panglima TNI Ditolak Masuk AS
Dubes AS Minta Maaf Ke Menlu Soal Penolakan Panglima TNI
Empat Kapal Perang India Tiba Di Jakarta
Korea Utara Mau Berunding Dengan Syarat
Arab Saudi Sambut Baik Rekonsiliasi Palestina
Enam Tentara Mesir Tewas Dalam Serangan Di Sinai
Konvoi Pertama Militer Turki Masuki Idlib
Indonesia Sambut Baik Rekonsiliasi Hamas-Fatah
Hamas Dan Fatah Bersatu
Amerika Serikat Menarik Diri Dari UNESCO
Presiden Joko Widodo Terima Kunjungan Perdana Menteri Laos Di Istana Bogor
Bangladesh Hancurkan Kapal Pengangkut Pengungsi Rohingya
FBI Tegaskan Tak Ada Bukti Penembakan Las Vegas Terkait Terorisme
Marilou Danley, Pacar Pelaku Penembakan Di Las Vegas
Wali Kota Surabaya Dinobatkan Sebagai Pemimpin Yang Menginspirasi
PBB Serukan Dukungan Lebih Banyak Buat Pengungsi Rohingya Dari Myanmar
Daftar Negara Yang Warganya Dilarang Masuk Ke Amerika Serikat
Kepala UNHCR Kunjungi Pengungsi Rohingya Di Tempat Penampungan Bangladesh
jQuery Slider

Comments

Archives :2017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 4.795.964 Since: 07.04.14 | 0.6465 sec