YouTube Facebook Twitter RSS
16 Oct 2018, 0

Hukum

Hasil Pertemuan Keluarga Dan Sekolah Terkait Kasus Perundungan Siswa SDN

Wednesday, 01 November 2017 | View : 130

siarjustisia.com-JAKARTA.

Polisi melakukan klarifikasi dan upaya mediasi terkait beredarnya kabar dugaan perundungan (bullying) terhadap JSZ, siswa SDN 16 Pekayon, Pasar Rebo, Jakarta Timur. Hasilnya, permasalahan itu diselesaikan secara kekeluargaan dan kedua belah pihak telah berdamai.

Kapolres Metro Jakarta Timur, Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol.) Andry Wibowo, S.IK., M.H., M.Si. mengatakan polisi telah melakukan klarifikasi terkait informasi yang viral tentang seorang siswa Sekolah Dasar (SD) yang dirundung temannya dengan sebutan "Ahok" karena memiliki mata sipit. Padahal JSZ merupakan keturunan suku Nias.

"Setelah kami melakukan mapping, ternyata benar info tersebut telah terjadi dua minggu lalu. Anak itu di-bully disebut 'Ahok' karena anak itu seperti keturunan China, matanya sipit. Anak itu kemudian tidak masuk sekolah," ujar Kombes Pol. Andry Wibowo, S.IK., M.H., M.Si. kepada awak media, Rabu (1/11/2017).

Sedangkan, informasi yang menyebut JSZ ditusuk tangannya dengan pulpen diduga tidak benar. "Perkara tersebut sudah dilakukan proses pemeriksaan baik korban, yang membuat informasi (paman korban) dan pihak sekolah. Dilakukan musyawarah karena memuat informasi tidak sesuai fakta yang sebenarnya, dan kedua belah pihak membuat surat perdamaian," ungkapnya.

Ia menyampaikan permasalahan itu terjadi karena guru kelas sering tidak masuk lantaran menderita penyakit jantung.

"Perkara itu telah diselesaikan dengan baik dan masing-masing pihak saling memaafkan. Anak itu (korban) tetap sekolah di SDN 16 Pekayon, Pasar Rebo," katanya.

Ia menegaskan, polisi akan melakukan pemantauan setiap hari agar kasus perundungan itu tidak kembali terjadi. "Untuk menghidari kejadian berikutnya akan kami pantau setiap hari," tegasnya.

Sementara itu, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bidang Pendidikan, Retno Listyarti mengatakan setelah mendapatkan laporan ada kasus perundungan atau bullying di SDN 16 Pekayon, Pasar Rebo, Jakarta Timur, pihaknya langsung turun ke lapangan untuk mendalami kasus tersebut bersama Dinas Pendidikan (Disdik) DKI Jakarta.

“Dari informasi yang diterima KPAI, saat itu sedang berlangsung mediasi antara orangtua korban JSZ, termasuk pamannya, pihak sekolah, dan pengawas sekolah. Belakangan pihak Polsek setempat juga datang ke sekolah. Sayangnya saat KPAI tiba di sekolah, pertemuan tersebut sudah selesai dan para pihak sudah meninggalkan lokasi,” kata Retno Listyarti, Selasa (31/10/2017).

Namun ternyata, lanjutnya, hasil mediasi tersebut tidak ada poin kesepakatan. KPAI menduga pertemuan tersebut bukan berbentuk mediasi, melainkan hanya klarifikasi kejadian tersebut.

Satu-satunya informasi yang muncul adalah ibu korban meminta kasus ini tidak diperpanjang.

“KPAI menyayangkan saat mediasi tersebut, korban ada di dalam ruangan. Juga diduga pihak media massa ikut di dalamnya. Bahkan pihak sekolah mengaku banyak tidak mengenali pihak-pihak yang hadir tersebut saat itu,” terangnya.

Sesampai di sekolah, KPAI segera meminta keterangan pihak-pihak terkait di sekolah. Seperti, Kepala Sekolah (Kepsek), guru agama dan juga pengawas sekolah.

Menurut penjelasan pihak sekolah, sejak kelas 1, JSZ memang sudah dijuluki "Ahok". Diduga karena JSZ, secara fisik memang putih, sipit, dan ganteng. Saat itu, julukan Ahok dirasa positif karena pada 2015 tersebut, Ahok adalah Gubernur yang banyak mendapatkan pujian. Kondisi tersebut memang dibiarkan oleh guru kelas dan guru agama karena anak-anak lain tidak bermaksud mem-bully.

Namun, pascapilkada, panggilan Ahok terhadap korban hanya terlontar saat korban melakukan suatu keisengan terhadap teman-temannya di kelas. “Karena kesal, terlontar lah kata “Dasar Ahok”. KPAI menilai di sini letak bullying tadi. Di mana makna nama Ahok yang sebelumnya positif kemudian bergeser menjadi bermakna negatif. Hal ini juga yang diduga kuat menjadi alasan bagi orangtua korban yang berencana memindahkan anaknya ke sekolah lain setelah pembagian rapor semester ganjil,” paparnya.

Pihak sekolah membantah JSZ mengalami kekerasan fisik berupa penusukan pena pada tangannya. Karena saat pertemuan dilakukan tidak ditemukan luka di tangan korban. Juga pihak sekolah mengatakan orangtua korban tidak pernah melapor terkait dugaan tindakan kekerasan dan perundungan. Tapi mengakui, anaknya tidak masuk sekolah selama seminggu dan pihak sekolah belum sempat melakukan kunjungan ke rumah korban. “Karena itu, kami akan melakukan home visit untuk menemui JSZ dan keluarganya. KPAI tentu saja prihatin dengan kasus ini dan akan mendalaminya,” ungkapnya.

Bahkan bila JSZ membutuhkan pemulihan secara psikoliis untu mengatasi traumanya, maka KPAI akan meminta Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) untuk mendampingi korban.

Jika memang ada luka dalam tubuh korban, maka KPAI akan merujuk pada Rumah Sakit (RS) terdekat untuk pengobatan fisik. Serta, berkoordinasi dengan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) untuk mendampingi korban dan keluarga jika dibutuhkan.

“Kasus ini dapat menjadi pembelajaran bersama bagi sekolah maupun Dinas Pendidikan untuk evaluasi menyeluruh, tidak hanya di sekolah korban, tapi seluruh sekolah di semua jenjang pendidikan untuk membangun Sekolah Ramah Anak (SRA) dan memperkuat nilai-nilai kebangsaan serta menyemai keragaman,” jelasnya.

Sebelumnya, sebuah status Facebook yang diunggah oleh Bearo Zalukhu menjadi viral. Akun facebook Bearo Zalukhu menceritakan kisah pilu keponakannya dengan inisial JSZ selama belajar di SDN 16 Pekayon di Jakarta Timur. Bearo Zalukhu menceritakan keponakannya yang bernama JSZ siswa kelas 3 SDN 16 Pekayon, Pasar Rebo, Jakarta Timur mengalami bullying oleh teman sekelasnya. Peristiwa bullying disertai penganiayaan itu diceritakan oleh paman korban di akun facebook-nya pada Senin (30/10/2017), dan mendapat banyak respons. JSZ ternyata dibully oleh rekan-rekannya dengan memanggilnya Ahok. JSZ sudah dua minggu tak masuk sekolah. Dalam unggahan disebutkan dia mengalami kekerasan fisik, antara lain tangannya terluka oleh tusukan pena.

Dinas Pendidikan (Disdik) DKI Jakarta mengklarifikasi ulang terkait kasus siswa SD yang di-bully  ternyata memang benar terjadi. Sebelumnya, Disdik DKI sempat menyebut peristiwa tersebut sebagai hoax. "Iya, ternyata memang ada peristiwanya. Tapi bukan di sekolah yang ditulis di medsos," kata Wakil Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Bowo Irianto ketika dihubungi awak media, Selasa (31/10/2017). Menurut Bowo Irianto, peristiwa itu terjadi di SDN 16 Pekayon, Pasar Rebo, Jakarta Timur, dan kini sedang dalam pendalaman pihak Disdik DKI Jakarta. (ant/jos/bs/tri)

See Also

Polisi Limpahkan Berkas Perkara Mantan Wali Kota Depok Ke Kejaksaan
Rekayasa Lalin Di KPU Saat Pengundian Nomor Urut Capres Cawapres
KPK Perpanjang Masa Penahanan Idrus Marham
Kombes Pol. Panca Putra Simanjuntak Jadi Direktur Penyidikan KPK
Kapolda Jambi Bongkar Peredaran Narkoba Dari Aceh Ke Kota-kota Di Sumatera Dan Jawa
Kasus Korupsi Massal DPRD Sumut, KPK Sita Lagi Uang Suap
KPK Periksa Dirjen Minerba
KPK Cegah Bos Borneo Lumbung Energi Ke Luar Negeri
Tim Resmob Polda Kalbar Ringkus Preman Penganiaya Penjaga Toko Arloji
Kongres Advokat Indonesia Tuntut Bebaskan Julius Lobiua
Masyarakat Pulau Pari Kembali Unjuk Rasa PN Jakarta Utara
Densus 88 Antiteror Tahan Satu Keluarga Di Sleman
Penjambret Yang Tewaskan Penumpang Ojol Di Cempaka Putih Terciduk
KPK Geledah Rumah Dinas Gubernur Aceh
Polres Jaktim Terus Buru Penjambret Tewaskan Penumpang Ojol Di Cempaka Putih
Kronologi OTT Gubernur Aceh Dan Bupati Bener Meriah
Gubernur Aceh Ditahan KPK
Gubernur Aceh Jadi Tersangka
KPK Tetapkan Gubernur Aceh Dan Bupati Bener Meriah Sebagai Tersangka
Keppres Pilkada Serentak 27 Juni 2018 Sebagai Hari Libur Nasional
Polda Metro Jaya Kerahkan 41.000 Personel Amankan Pilkada
Jennifer Dunn Divonis 4 Tahun Penjara
Jaksa KPK Tuntut Rita Widyasari Dihukum 15 Tahun Penjara
Densus 88 Antiteror Sergap Terduga Teroris JAD Di Cirebon
Densus 88 Antiteror Lumpuhkan Dua Terduga Teroris Di Depok
jQuery Slider

Comments

Archives :20182017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 6.767.077 Since: 07.04.14 | 0.6438 sec