YouTube Facebook Twitter RSS
20 Jan 2018, 0

Internasional

Imigran Asal Uzbekistan Tersangka Pembunuh Delapan Orang Di New York

Thursday, 02 November 2017 | View : 34

siarjustisia.com-NEW YORK.

Imigran asal Uzbekistan, Sayfullo Saipov (29 tahun) yang menjadi tersangka pembunuh delapan orang di New York, Amerika Serikat (AS) dengan menabrakkan truk sewaannya ke jalur sepeda, makin rajin mempelajari agama justru setelah pindah ke Amerika Serikat (AS), kata seorang rekannya sesama Uzbek.

Sang rekan yang memberikan kesaksian kepada Reuters ini mengaku dua bulan lalu berbicara dengan Sayfullo Saipov.

Polisi AS sendiri mengatakan Sayfullo Saipov memasuki AS pada 2010. Sebelum melakukan serangan, dia meninggalkan pesan yang menyatakan dia melancarkan aksi teror itu demi kelompok teroris Negara Islam Suriah dan Irak (ISIS) atau Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) atau Negara Islam atau Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) atau Islamic State (IS) atau The Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL) atau Islamic State of Iraq and Syria atau Islamic State of Iraq and al-Sham (ISIS) yang lebih dikenal dengan Islamic State (IS) atau Negara Islam (IS). Dia juga meneriakkan "Allahu Akbar".

Tersangka Sayfullo Saipov menghabiskan waktu berminggu-minggu untuk merencanakan serangan atas nama kelompok teroris Negara Islam Suriah dan Irak (ISIS) atau Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) atau Negara Islam atau Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) atau Islamic State (IS) atau The Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL) atau Islamic State of Iraq and Syria atau Islamic State of Iraq and al-Sham (ISIS) yang lebih dikenal dengan Islamic State (IS) atau Negara Islam (IS) yang menewaskan delapan orang di New York, Amerika Serikat (AS) pada Selasa (31/10/2017).

"Dia menjadi religious selama momen (di AS)," kata Mirrakhmat Muminov, pengemudi truk dan aktivis komunitas Uzbek yang tinggal di Stow, Ohio, kepada Reuters via telepon.

Menurut dia, Sayfullo Saipov sebelumnya tinggal di Tashkent, Ibu Kota Uzbekistan.

Sayfullo Saipov teradikalisasi di AS. "Dia mulai belajar agama di Amerika Serikat," kata Mirrakhmat Muminov.

Sayfullo Saipov tak bisa bebas belajar sebebas di AS selama tinggal di Uzbekistan.

Di Uzbekistan yang diperintah rezim otoriter dan mayoritas berpenduduk muslim serta bekas wilayah Uni Soviet sampai bubar pada 1991, praktik beragama memang diawasi ketat oleh pemerintah demi mencegah radikalisme.

Serangan teror ke New York itu membuka lagi militansi yang menjamur di Asia Tengah yang selama ini pemasok kelompok militan teroris Negara Islam Suriah dan Irak (ISIS) atau Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) atau Negara Islam atau Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) atau Islamic State (IS) atau The Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL) atau Islamic State of Iraq and Syria atau Islamic State of Iraq and al-Sham (ISIS) yang lebih dikenal dengan Islamic State (IS) atau Negara Islam (IS) di Suriah dan Irak. Serangan itu juga paling tidak merupakan serangan maut keempat di AS yang dilakukan oleh keturunan Uzbek dalam setahun ini.

Seorang sumber keamanan di Kyrgyzstan yang bertetangga di Uzbekistan berkata kepada Reuters bahwa Sayfullo Saipov juga pernah tinggal di negeri itu dengan mengantongi identitas sementara, tepatnya di kota Uzgen yang berada di daerah yang kadang bergejolak, Lembah Ferghana, pada 2004.

Di AS, kata Mirrakhmat Muminov, Sayfullo Saipov tinggal di Stow selama dua atau tiga tahun. Mereka berdua bertemu lewat komunitas Uzbek. Saat itu Sayfullo Saipov juga bekerja sebagai sopir truk.

Mirrakhmat Muminov menyebut Sayfullo Saipov penyendiri karena tak punya banyak teman dan menghadapi kendala berbahasa Inggris.

"Dia menarik diri, gugupan, kadang agresif. Karena itulah dia penyendiri, dia hidup di dunianya sendiri," kata Mirrakhmat Muminov yang mengaku terakhir berbicara dengan Sayfullo Saipov dua bulan lalu.

Jahon, kantor berita Uzbekistan, melaporkan bahwa Sayfullo Saipov lahir pada 8 Februari 1988 di Tashkent. Dia lulusan jurusan ekonomi yang kemudian bekerja sebagai akuntan di sebuah kota di kota itu. Dia tak punya catatan kriminal apa pun sehingga tidak pernah menjadi perhatian polisi.

Sayfullo Saipov memenangkan visa AS lewat program green card pada 2010. Tahun itu juga dia pergi ke AS yang kemudian menikahi seorang wanita keturunan Uzbek di sana.

Sejak 2010 dia tak pernah kembali ke Uzbekistan. Menurut Johan, keluarganya mempraktikkan Islam seperti pada umumnya penganut Islam di Uzbekistan dan tak pernah ada kaitannya dengan militan.

"Tetapi setelah pindah ke Amerika Serikat Saipov menjadi menarik diri dan jatuh di bawah pengaruh kelompok radikal," lapor Jahon.

Pihak berwenang mengatakan Sayfullo Saipov, seorang imigran asal Uzbekistan yang pindah ke Amerika Serikat (AS) tahun 2010, menggunakan truk pick up sewaan untuk menyeruduk pejalan kaki dan pengendara sepeda di sepanjang jalur sepeda West Side Lower Manhattan pada Selasa (31/10/2017).

"Berdasarkan penyelidikan semalam, tampaknya Saipov telah merencanakan ini selama beberapa pekan," kata John Miller, wakil komisaris polisi di Kepolisian New York, dalam konferensi pers.

"Dia melakukan ini atas nama ISIS," katanya sebagaimana dikutip kantor berita AFP.

John Miller mengatakan catatan yang ditemukan di lokasi kejadian menunjukkan Sayfullo Saipov mengikuti hampir semua petunjuk yang ditampilkan kelompok teroris Negara Islam Suriah dan Irak (ISIS) atau Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) atau Negara Islam atau Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) atau Islamic State (IS) atau The Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL) atau Islamic State of Iraq and Syria atau Islamic State of Iraq and al-Sham (ISIS) yang lebih dikenal dengan Islamic State (IS) atau Negara Islam (IS) di saluran-saluran media sosialnya.

Gubernur Negara Bagian New York Andrew Cuomo sebelumnya mengatakan kepada CNN bahwa Sayfullo Saipov mengalami radikalisasi di dalam negeri.

Polisi menembak Sayfullo Saipov usai serangan itu dan dia masih dirawat di Rumah Sakit (RS).

Otoritas Federal dan lokal dengan cepat menggali informasi mengenai masa lalu Sayfullo Saipov setelah serangan itu, yang terjadi ketika anak-anak dan orangtua mereka bersiap merayakan Halloween. Namun sebelumnya dia tidak dikenali oleh para petugas kontra-terorisme.

"Saipov tidak pernah menjadi subjek biro investigasi intelijen NYPD, atau subjek investigasi FBI," kata John Miller.

Wali Kota Bill de Blasio, yang juga berbicara dalam konferensi pers itu, mengatakan bahwa New York Marathon akan dilanjutkan sesuai rencana, meski dengan pengamanan yang lebih ketat.

Serangan teror di New York oleh Sayfullo Saipov itu adalah serangan paling berdarah keempat sejak Serangan 11 September 2011.

Pada malam tahun baru lalu, seorang Uzbek membabibuta menembaki sebuah klab malam di Istanbul untuk menewaskan 39 orang. April lalu, seorang keturunan Uzbek yang lahir di Kyrgyzstan meledakkan kereta metro di St Petersburg, Rusia, untuk menewaskan paling sedikit 14 orang, pada bulan yang sama seorang Uzbek menabrakkan truk ke kerumunan orang di Stockholm, Swedia untuk menewaskan empat orang. (afp/reuters/cnn)

See Also

2 WNI Yang Disandera Abu Sayyaf Dibebaskan
Bom Ganda Bunuh Diri Tewaskan 38 Orang Di Baghdad
Myanmar Bebaskan Dua Jurnalis Asing
Serangan Gereja Di Kairo Tewaskan 10 Orang
Stasiun Kereta Baru Di Yerusalem Akan Dinamai Donald John Trump
Ledakan Di Kantor Berita Afghanistan
Israel Pesan Ratusan Jet Temput Berteknologi Mutakhir
Kaisar Jepang Akihito Berulang Tahun
128 Negara Anggota PBB Tolak Keputusan Donald Trump Tentang Yerusalem
Tekanan Berat Bintang K-pop Shinee Kim Jong-hyun
Wakil PM Inggris Diminta Mundur Terkait Skandal Pornografi
Turki Sesalkan Veto AS Soal Yerusalem
Perwakilan Nahdlatul Ulama Dan Wahid Foundation Temui Dubes Amerika Serikat
Parlemen Australia Setuju Pernikahan Sesama Jenis
Pidato Lengkap Donald Trump Saat Akui Yerusalem Ibu Kota Israel
Amerika Serikat Segera Memulai Proses Pemindahan Kedubesnya
Inggris Tidak Setuju Dengan Keputusan AS Soal Jerusalem
Amerika Serikat Akan Memulai Rencana Pemindahan Kedutaan Besarnya
Yordania Tolak Sikap Donald Trump Soal Yerusalem
Warga Korea Utara Gelar Perayaan Massal Uji Coba Rudal Hwasong 15
Mantan Penasihat Keamanan Presiden AS Didakwa Bohongi FBI Terkait Rusia
Militer Suriah Tembakkan Rudal Ke Jet Tempur Israel
Badai Hujan Dan Petir Berlanjut Di Melbourne
Warga AS Dipenjara Seumur Hidup Atas Pembunuhan Wanita Jepang
Kaisar Jepang Akihito Akan Turun Takhta 30 April 2019
jQuery Slider

Comments

Archives :20182017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 5.221.433 Since: 07.04.14 | 0.4562 sec