YouTube Facebook Twitter RSS
16 Jul 2018, 0

Internasional

Mantan Penasihat Keamanan Presiden AS Didakwa Bohongi FBI Terkait Rusia

Saturday, 02 December 2017 | View : 156

siarjustisia.com-WASHINGTON D.C.

Mantan penasihat keamanan nasional untuk Presiden Amerika Serikat (AS) ke-45 Donald John Trump, Michael Thomas Flynn, didakwa berbohong kepada Biro Investigasi Federal (FBI) terkait operasi intelijen Rusia, demikian dokumen yang diterbitkan pada Jumat (1/12/2017).

Dakwaan itu merupakan perkembangan dalam penyidikan terhadap dugaan hubungan dengan Rusia yang selama ini membayang-bayangi pemerintahan Presiden AS Donald John Trump.

Kantor Penasihat Khusus mengatakan pensiunan Letjen US Army tersebut, MichaelThomas  Flynn didakwa memberikan keterangan palsu tentang percakapannya dengan Duta Besar Rusia untuk AS.

Kantor itu menyelidiki tuduhan bahwa Rusia mencampuri pemilihan presiden AS pada 2016 serta kemungkinan persekongkolan dengan tim kampanye Donald John Trump. Kantor tersebut mengatakan bahwa persidangan pensiunan US Army sepanjang 33 tahun karier militernya, Michael Thomas Flynn dijadwalkan berlangsung pada Jumat.

Michael Thomas Flynn, yang merupakan purnawirawan jenderal Angkatan Darat AS yang berdinas mulai dari tahun 1981 hingga tahun 2014, dan diperkirakan akan mengaku bersalah. 

Ia tiba di pengadilan di pusat kota Washington D.C. pada Jumat (1/12/2017) pagi.

Para pengacara Michael Thomas Flynn belum dapat dimintai komentar, demikian laporan Reuters. 

Michael Thomas Flynn merupakan sosok utama dalam penyidikan yang dipimpin oleh Penasihat Khusus Robert Mueller itu. 

Ia dipecat dari jabatan di Gedung Putih pada Februari 2017 karena menyesatkan posisi Wakil Presiden AS ke-48 sejak 20 Januari 2017, Michael "Mike" Richard Pence soal percakapannya dengan Duta Besar Rusia. 

Ia merupakan mantan penasihat senior kedua untuk Donald John Trump yang dikenai dakwaan dalam penyelidikan. 

Penyidikan Robert Mueller beserta sejumlah anggota kongres mengenai kasus itu telah membayangi pemerintahan Donald John Trump sejak presiden asal Partai Republik itu mulai menjabat pada 20 Januari. 

Paul Manafort, yang menjalankan kampanye Presiden Donald John Trump selama beberapa bulan tahun lalu, didakwa pada Oktober 2017dalam kasus pencucian uang, persekongkolan terhadap AS karena tidak mendaftarkan diri sebagai agen asing bagi mantan pemerintahan Ukraina yang pro-Rusia. 

Paul Manafort, yang tidak menjabat dalam pemerintahan Donald John Trump, serta satu rekan bisnisnya yang sama-sama didakwa, menyatakan tidak bersalah. 

Sementara itu, dengan dakwaan yang dikenakan terhadapnya, Michael Thomas Flynn diancam hukuman penjara hingga lima tahun. 

Menurut dokumen Pengadilan Distrik AS untuk District of Columbia, kantor penasihat khusus mengatakan bahwa Michael Thomas Flynn memberikan keterangan palsu kepada FBI pada 24 Januari. 

Michael Thomas Flynn berbohong kepada para petugas FBI bahwa pada Desember 2016 bahwa ia tidak meminta Duta Besar Rusia untuk Amerika Serikat agar menahan diri dari tindakan yang dapat meningkatkan ketegangan setelah Washington menjatuhkan sejumlah sanksi terhadap Moskow. 

Pemerintahan Barack Obama, yang saat itu masih bertugas, telah mengeluarkan sanksi-sanksi untuk Moskow atas dugaan bahwa Rusia mencampuri pemilihan presiden dengan kandidat Hillary Diane Rodham Clinton dari Partai Demokrat dan Donald John Trump dari Partai Republik. 

Menurut dokumen tertanggal 30 November, Michael Thomas Flynn juga didakwa berbohong soal ia meminta Duta Besar Rusia Sergei Kislyak untuk membantu penundaan pemungutan suara di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang dianggap bisa membahayakan posisi Israel. 

Moskow telah membantah kesimpulan yang ditarik lembaga-lembaga intelijen AS bahwa Rusia ikut campur dalam kampanye pemilihan presiden dalam upaya menambah perolehan suara bagi Donald John Trump.

Presiden AS Donald John Trump juga membantah bahwa timnya melakukan persekongkolan dengan Rusia. (reuters)

See Also

Harun Yahya Tuduh Penangkapan Dirinya Konspirasi Inggris
Harun Yahya Ditangkap Kepolisian Turki
Eks Navy Seal Tewas Dalam Evakuasi Tim Sepak Bola Dari Gua Thailan
Pelaku Penembakan Brutal Staf Capital Gazette Ditangkap
Penembakan Staf Koran Capital Gazette
Seorang Ayah Tendang Dan Tinju Anak Sendiri Ditangkap
Turki Adakan Pemilu Hari Ini
Arab Saudi Resmi Mencabut Larangan Perempuan Menyetir
Gempa Guncang Osaka
Inggris Permudah Pengajuan Visa Bagi Pelajar Indonesia
Amerika Serikat Keluar Dari Dewan HAM PBB
PM Malaysia Mahathir Mohamad Umumkan Gaji Menteri Dipangkas 10 Persen
Suriah Berhasil Usir ISIS
Satgas Malaysia Akan Selidiki Skandal Mega Korupsi 1MDB
Malaysia Ringkus 7 Anggota Terduga Jaringan IS
Sekolah Di Ghouta Timur Dihantam Rudal
Pasar Di Suriah Dihantam Roket
Arab Saudi Dan Inggris Tandatangani Kesepakatan Pembelian Jet Tempur
Kementerian Pertanian Cegah Rock Melon Australia Masuk Indonesia
Presiden Suriah Tegaskan Serangan Di Ghouta Timur Akan Terus Berlanjut
Skandal Seks Wakil PM Australia Dan Staf Picu Usulan Larangan
Hujan Salju Tebal Lumpuhkan Paris
PBB Selidiki Dugaan Penggunaan Senjata Kimia Di Suriah
Kurdi Irak Tahan 4.000 Ekstremis
Kereta Tabrak Ke Kereta Di Amerika Serikat
jQuery Slider

Comments

Archives :20182017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 6.273.822 Since: 07.04.14 | 0.6787 sec