YouTube Facebook Twitter RSS
18 Dec 2017, 0

Internasional

Mantan Penasihat Keamanan Presiden AS Didakwa Bohongi FBI Terkait Rusia

Saturday, 02 December 2017 | View : 9

siarjustisia.com-WASHINGTON D.C.

Mantan penasihat keamanan nasional untuk Presiden Amerika Serikat (AS) ke-45 Donald John Trump, Michael Thomas Flynn, didakwa berbohong kepada Biro Investigasi Federal (FBI) terkait operasi intelijen Rusia, demikian dokumen yang diterbitkan pada Jumat (1/12/2017).

Dakwaan itu merupakan perkembangan dalam penyidikan terhadap dugaan hubungan dengan Rusia yang selama ini membayang-bayangi pemerintahan Presiden AS Donald John Trump.

Kantor Penasihat Khusus mengatakan pensiunan Letjen US Army tersebut, MichaelThomas  Flynn didakwa memberikan keterangan palsu tentang percakapannya dengan Duta Besar Rusia untuk AS.

Kantor itu menyelidiki tuduhan bahwa Rusia mencampuri pemilihan presiden AS pada 2016 serta kemungkinan persekongkolan dengan tim kampanye Donald John Trump. Kantor tersebut mengatakan bahwa persidangan pensiunan US Army sepanjang 33 tahun karier militernya, Michael Thomas Flynn dijadwalkan berlangsung pada Jumat.

Michael Thomas Flynn, yang merupakan purnawirawan jenderal Angkatan Darat AS yang berdinas mulai dari tahun 1981 hingga tahun 2014, dan diperkirakan akan mengaku bersalah. 

Ia tiba di pengadilan di pusat kota Washington D.C. pada Jumat (1/12/2017) pagi.

Para pengacara Michael Thomas Flynn belum dapat dimintai komentar, demikian laporan Reuters. 

Michael Thomas Flynn merupakan sosok utama dalam penyidikan yang dipimpin oleh Penasihat Khusus Robert Mueller itu. 

Ia dipecat dari jabatan di Gedung Putih pada Februari 2017 karena menyesatkan posisi Wakil Presiden AS ke-48 sejak 20 Januari 2017, Michael "Mike" Richard Pence soal percakapannya dengan Duta Besar Rusia. 

Ia merupakan mantan penasihat senior kedua untuk Donald John Trump yang dikenai dakwaan dalam penyelidikan. 

Penyidikan Robert Mueller beserta sejumlah anggota kongres mengenai kasus itu telah membayangi pemerintahan Donald John Trump sejak presiden asal Partai Republik itu mulai menjabat pada 20 Januari. 

Paul Manafort, yang menjalankan kampanye Presiden Donald John Trump selama beberapa bulan tahun lalu, didakwa pada Oktober 2017dalam kasus pencucian uang, persekongkolan terhadap AS karena tidak mendaftarkan diri sebagai agen asing bagi mantan pemerintahan Ukraina yang pro-Rusia. 

Paul Manafort, yang tidak menjabat dalam pemerintahan Donald John Trump, serta satu rekan bisnisnya yang sama-sama didakwa, menyatakan tidak bersalah. 

Sementara itu, dengan dakwaan yang dikenakan terhadapnya, Michael Thomas Flynn diancam hukuman penjara hingga lima tahun. 

Menurut dokumen Pengadilan Distrik AS untuk District of Columbia, kantor penasihat khusus mengatakan bahwa Michael Thomas Flynn memberikan keterangan palsu kepada FBI pada 24 Januari. 

Michael Thomas Flynn berbohong kepada para petugas FBI bahwa pada Desember 2016 bahwa ia tidak meminta Duta Besar Rusia untuk Amerika Serikat agar menahan diri dari tindakan yang dapat meningkatkan ketegangan setelah Washington menjatuhkan sejumlah sanksi terhadap Moskow. 

Pemerintahan Barack Obama, yang saat itu masih bertugas, telah mengeluarkan sanksi-sanksi untuk Moskow atas dugaan bahwa Rusia mencampuri pemilihan presiden dengan kandidat Hillary Diane Rodham Clinton dari Partai Demokrat dan Donald John Trump dari Partai Republik. 

Menurut dokumen tertanggal 30 November, Michael Thomas Flynn juga didakwa berbohong soal ia meminta Duta Besar Rusia Sergei Kislyak untuk membantu penundaan pemungutan suara di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang dianggap bisa membahayakan posisi Israel. 

Moskow telah membantah kesimpulan yang ditarik lembaga-lembaga intelijen AS bahwa Rusia ikut campur dalam kampanye pemilihan presiden dalam upaya menambah perolehan suara bagi Donald John Trump.

Presiden AS Donald John Trump juga membantah bahwa timnya melakukan persekongkolan dengan Rusia. (reuters)

See Also

Perwakilan Nahdlatul Ulama Dan Wahid Foundation Temui Dubes Amerika Serikat
Parlemen Australia Setuju Pernikahan Sesama Jenis
Pidato Lengkap Donald Trump Saat Akui Yerusalem Ibu Kota Israel
Amerika Serikat Segera Memulai Proses Pemindahan Kedubesnya
Inggris Tidak Setuju Dengan Keputusan AS Soal Jerusalem
Amerika Serikat Akan Memulai Rencana Pemindahan Kedutaan Besarnya
Yordania Tolak Sikap Donald Trump Soal Yerusalem
Warga Korea Utara Gelar Perayaan Massal Uji Coba Rudal Hwasong 15
Militer Suriah Tembakkan Rudal Ke Jet Tempur Israel
Badai Hujan Dan Petir Berlanjut Di Melbourne
Warga AS Dipenjara Seumur Hidup Atas Pembunuhan Wanita Jepang
Kaisar Jepang Akihito Akan Turun Takhta 30 April 2019
Taliban Serang Kampus Di Pakistan
Arab Saudi Cegat Rudal Balistik Houthi Yaman
Mahasiswa Australia Semakin Lama Selesaikan Studi
Agnez Mo Raih Penghargaan Di MAMA 2017 Vietnam
Tidak Ada Korban WNI Di Teror Masjid Sinai
Pola Teroris Bunuhi Jemaah Salat Jumat Di Sinai
Korban Bom Masjid Di Sinai Bertambah Jadi 305 Orang
Serangan Udara Mesir Tewaskan Teroris Penyerang Masjid Sinai
Perlintasan Perbatasan Mesir-Gaza Batal Dibuka
Penembakan Pada Hari Thanksgiving Di Houston
Mesir Buru Pelaku Teror Di Masjid Sinai
Milisi Serang Masjid Di Mesir
Kuba Kompak Dengan Korea Utara
jQuery Slider

Comments

Archives :2017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 5.006.174 Since: 07.04.14 | 0.408 sec