YouTube Facebook Twitter RSS
18 Dec 2017, 0

Editorial

Pidato Pertanggungjawaban Atas Penerimaan Soetandyo Wignjosoebroto Award

Author : Dra Esthi Susanti Hudiono MSi | Friday, 08 December 2017 | View : 20

siarjustisia.com-SURABAYA.

PIDATO PERTANGGUNGJAWABAN ATAS AWARD YANG DIBERIKAN KEPADA SAYA

Salam damai sejahtera. Salam Pancasila

Yang saya hormati Pak Falih Dekan FISIP UNAIR (Universitas Airlangga) dan para pembantu Dekan: Bu Tuti Budi Rahayu, Bu Mertati dan kawan-kawan bersama dalam urusan perjuangan dan intelektualitas: Mbak Pingky, Mbak Lies, Mbak Rustin, Mbak Tri. Juga teman-teman kantor yang hadir: Machrus, Joned, Keke, dan Prislia.Terima kasih atas kesetiaan dan kebersamaan selama ini.

Sebelumnya saya mohon maaf memakai kaos dalam forum terhormat seperti ini. Ini peristiwa penting bagi saya dan saya sikapi sebagai pentasbihan panggilan hidup. Selama ini ruang kerja saya di di sektor nonformal. Kaos yang saya pakai dibuat untuk memperingati hari Perdamaian Indonesia yang digagas oleh Komunitas Inklusi Sosial dan Perdamaian Indonesia (KISPI) September yang lalu. Gambar kaos adalah reproduksi lukisan Mbak Sherly untuk buku saya berjudul "Mendagingkan Indonesia Damai". Lukisannya berisi kumpulan anak-anak dengan berpakaian aneka pakaian daerah Indonesia. Saya peduli anak dan pendidikan pluralitas. Selain lukisan anak juga ada simbol bendera Merah Putih dan kata-kata Indonesia Damai yang menjadi inti perjuangan dan pekerjaan yang sedang dan akan saya lakukan di sisa hidup saya. Perdamaian yang mensyaratkan adanya keadilan sosial terlebih dulu dan perlakuan manusia sebagai manusi utuh ciptaan Tuhan.

Saya kuliah di 2 universitas yang membentuk dan memberi nilai-nilai penting yang telah terinternalisasi dalam jiwa. Universitas pertama yang membentuk saya adalah Universitas Kristen Satya Wacana. Di sini saya dibentuk menjadi minoritas yang kreatif yang membangun pengetahuan dengan mulai dengan takut pada Tuhan. Studi S-2 saya di jurusan Sosiologi Antropologi Universitas Airlangga. Di sini saya menyerap nilai-nilai egaliter, pluralitas dan pemihakan pada orang-orang kecil yang telah terinternalisasi dalam lembaga. Nilai-nilai yang ditanamkan oleh pendiri FISIP yakni Prof. Soetandyo.

Penghargaan ini bagi saya adalah penguatan atas apa yang sudah saya kerjakan sekaligus memberi framing dan fokus. Ini adalah amanah resmi agar saya meneruskan semangat dan nilai dari Prof. Soetandyo. Semoga Tuhan memberi hikmat dan kekuatan agar saya mampu memikul amanah ini.

Sebelum saya pidato maka saya akan baca puisi tempat saya kembali ketika kelelahan menghadapi dunia yang tidak ramah.

RUMAH BATINKU

Kumasuk rumah Maha Kudus
Dalam diriku dengan berlindung darahMu
Ku telah ikatkan hati denganMu
Juga janji untuk ada bersamaMu
Semoga kerajaanMu
Hadir di duniaku
Dan aku dijauhkan dari pencobaan.

Esthi Susanti Hudiono

PIDATO PENERIMAAN SOETANDYO WIGNJOSOEBROTO AWARD
7 DESEMBER 2017

Esthi Susanti Hudiono

Siapa sangka kalau saya bisa menerima Soetandyo Award, mengingat penerima pertama adalah Prof. Imam Prasodjo dan yang kedua adalah Prof. Sulistyowati Irianto. Saya belum meraih gelar doktor dan saya bukan seorang profesor. Saya orang pinggiran yang “tidak dihitung” dalam sistem kapitalisme yang beroperasi, meskipun jam terbang saya telah mencapai lebih dari 120.000 jam kerja.

Penghargaan ini bagi saya adalah sebuah simbol penerimaan PENGALAMAN (ini perjuangan feminist agar pengalaman bisa menjadi data dalam membangun pengetahuan) dalam kancah ilmu pengetahuan. Ini sesuatu yang dasyat karena ini bukti bahwa FISIP Unair berjarak dengan sistem kapitalisme yang beroperasi berkat nilai persamaan dan keadilan untuk semua yang dibangun oleh almarhum Prof. Soetandyo Wignjosoebroto dalam sistem hidup bersama di Indonesia modern ini.

Selain kapitalisme beroperasi melalui modal dan investasi, juga melalui standar profesionalisme yang menggerakkan sistem tersebut. Standard profesional yang menjadi penentu wacana, kebijakan dan program negara menyingkirkan kelompok lemah seperti perempuan, anak, petani, seniman, budayawan, aktivis LSM, orang sakit. Mereka menjadi OBYEK bukan SUBYEK dalam sistem yang beroperasi. Selama mereka menjadi obyek wacana, kebijakan dan program yang ada, maka transformasi ekonomi sosial tidak dimungkinkan terjadi. Jika tidak ada perubahan yang mendasar maka isu kesejahteraan sosial bagi seluruh bangsa Indonesia hanyalah menjadi slogan semata.

Pancasila sebagai nilai dasar hidup bersama belum dipraktekkan sepenuh hati. Selama ini kita hanya sibuk dengan sila pertama untuk memenangkan klaim agama yang berkeTuhanan yang Esa. Praktek kemanusiaan yang adil dan beradab punya problem besar. Negara kita memiliki problem besar dalam memandang manusia yang ada. Isunya tidak hanya soal pluralitas manusia yang ada seperti gender, agama, etnis dan kelas ekonomi tetapi juga bagaimana negara dalam memandang manusia dari berbagai latar belakang tersebut. Sebagai contoh anak masih dilihat sebagai manusia tidak utuh. Begitu juga perempuan selain sebagai manusia tidak utuh dan masih menjadi obyek seks. Orang Tionghoa dan Papua masih dilihat sebagai orang asing. Orang miskin masih jadi obyek bantuan yang tidak boleh meninggal tetapi dipasung dalam sistem yang tidak memungkinkan mereka menjadi berdaya dan berubah. Seniman dan budayawan yang jadi ujung tombak pelaksanaan sila ketiga dari Trisakti Bung Karno “berkepribadian secara sosial budaya” juga tidak dilihat sebagai manusia utuh. Keberadaan mereka masih dikaitkan dengan urusan ekonomi dan bisnis terutama di bidang pariwisata. Bagi saya urusan memanusiakan manusia adalah urusan utama dalam pekerjaan dan hidup pribadi. Hidup dengan bermartabat dan memperjuangkan martabat manusia untuk yang lain menjadi pusat perhatian utama saya. Karena itu misi hidup saya adalah bekerja untuk martabat manusia dalam dunia yang lebih adil, benar dan indah.

Persatuan Indonesia didesign dengan mementingkan harmoni tetapi melupakan keadilan. Akibatnya trauma-trauma sosial nyaris belum ditangani dengan semestinya. Sila ke-4 Pancasila yang membahas sistem politik terkosentrasi pada politik partai. Politik kewargaan yang meletakkan warganegara sebagai pusat perpolitikan yang ada, dengan adanya ruang mekanisme yang memungkinkan individu dan kelompoknya memiliki artikulasi terhadap kepentingannya, bukannya terkooptasi oleh kepentingan kekuasaan, belum ada secara memadai. Bapak, ibu dan adik-adik sekalian yang saya hormati. Sila kelima tentang Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia selama 72 tahun kemerdekaan Indonesia masih belum dijalankan dengan seharusnya. Sistem ekonomi yang terkonsentrasi pada investasi dan profesionalisme dengan standard tertentu tidak memungkinkan keadilan sosial itu bisa dicapai. Menurut Daniel Dhakidae dasar negara kita adalah sosialis tetapi praktek yang terjadi adalah kapitalisme brutal karena meremehkan hak asasi manusia dan sistem hukum yang seharusnya melekat menjadi satu dalam sistem tersebut.

Saya bukan manusia istimewa. Banyaknya penghargaan yang diberikan kepada saya adalah sebuah takdir yang menempatkan dan “memaksa” saya sebagai pejuang atas berbagai bentuk diskriminasi yang ditujukan pada kelompok yang dimarginalkan oleh sistem yang beroperasi. Pengalaman didiskriminasi telah menyeret saya ke area publik dalam pekerjaan yang melakukan pembelaan terhadap kelompok-kelompok yang dimarginalkan. Pengalaman saya memberi saya MATA KETIGA untuk melihat ketidakadilan yang beroperasi karena diskriminasi yang ada. DISKRIMINASI ADALAH AKAR KETIDAKADILAN SOSIAL. Karena itu berbagai bentuk diskriminasi yang dimulai dari ide, wacana, teori sebagai dasar pembuatan kebijakan dan program, saya kritisi melalui observasi dan penelitian di lapangan terus menerus. Barangkali inilah pertemuan saya dengan nilai dari Prof. Soetandyo dan jajaran dosen di FISIP tentang persamaan, keadilan dan martabat manusia. Penghargaan yang diberikan kepada saya membuat saya punya rumah tempat saya kembali di dunia karena ini bentuk pengakuan dan penerimaan. Terima kasih FISP Unair melalui juri yang memilih saya. Hanya Tuhan yang bisa membalas kebaikan ini.

Benarkah Prof. Soetandyo The Last Samurai pejuang persamaan, keadilan dan martabat manusia yang bersedia mengambil risiko atas pilihan tidak populer yang dilakukan? Memang samurai secara formal tidak ada di Jepang modern. Namun jiwa samurai yang disebut Bushido menjiwai praktek bisnis Jepang modern yang membawanya terkemuka di dunia. Prof. Soetandyo telah tiada. Nilai-nilai yang melandasi jejak langkahnya yang secara kongkrit membangun Indonesia yang plural dan modern adalah nilai-nilai modern dan bermasa depan. Bagi saya nilai itu telah bertransformasi dalam diri saya dalam bentuk kongkrit berupa prinsip membangun dan MENDAGINGKAN inner power di tingkat individu, keluarga, komunitas dan bernegara.

Pencarian panjang saya melalui literatur, observasi pengalaman diri sendiri maupun orang lain dan dialog dengan para pakar berujung pada kesimpulan penting tentang KEBUTUHAN MENGUBAH MIND SET YANG BERPUSAT PADA POWER DI LUAR MENJADI POWER DARI DALAM. Globalisasi yang menentukan standar dan keseragaman dalam menjadi manusia tetap membuka ruang besar, tempat keunikan yang tidak bisa disentuh olehnya. Keunikan yang berakar pada NURANI, KEJUJURAN, KEBENARAN, BAKAT, MINAT, TRADISI DAN BUDAYA yang ada seharusnya menjadi lokus dari semua gerakan yang ada baik di tingkat pribadi, keluarga, komunitas dan bermasyarakat. Outer power hanya membuat kita ada dalam chaos satu ke chaos yang lain. Dengan demikian pembangunan peradaban manusia di Indonesia menjadi problem besar. Saatnya kita membangun dan mendagingkan Indonesia damai melalui nilai-nilai Pancasila yang telah diterima sebagai dasar negara kita. Perdamaian Indonesia yang dimulai dari keadilan sosial di semua lini dengan memperlakukan manusia dari semua golongan dan kelompok sebagai manusia utuh ciptaan Tuhan.

Saya percaya dan banyak pakar yang mengatakan bahwa teori dibuat tidak dalam ruang kosong tetapi dalam konteks dan jaman tertentu. Karena itu melokalkan dan mengkonteks teori yang jadi landasan kerja menjadi sesuatu yang mendasar. Apalagi teori yang menyangkut manusia. Perjalanan Indonesia sebagai bangsa ada dalam konteks tertentu. Bagaimana bisa kita pakai teori dari negara barat yang konteksnya berbeda? Pekerjaan di basis di kelompok miskin kota dan perdesaan seharusnya diteliti, dianalisa dan menjadi teori, kerangka acuan baru atau dasar mengkritisi teori dan kerangka acuan yang dibuat dalam konteks sosial ekonomi dan jaman yang berbeda. Saya memulai dengan melakukan riset operasional atas proyek-proyek yang saya pimpin. Hasilnya didokumentasikan dalam bentuk buku untuk didebat dan didiskusikan secara proporsional. Kritik saya terhadap teman-teman yang berLSM adalah mereka tidak membangun pengetahuan sendiri dari masyarakat yang mereka dampingi begitu lama. Menjadi subyek atau tuan atas diri sendiri seharusnya dimulai dari diri sendiri bukan dari orang lain.

Saya tidak menunggu sistem siap menerima orang seperti saya. Pada akhirnya saya menemukan ruang subur untuk berkolaborasi yakni ruang kebudayaan. Teman-teman seniman dan budayawan yang hidupnya mengandalkan nurani untuk menghasilkan karya estetika adalah filsuf-filsuf berjalan yang menemukan kerangka teorinya dari pengalaman riil yang ada. STRATEGI KERJA MELALUI PENDEKATAN BUDAYA, LITERASI DAN DIALOG untuk memberdayakan kelompok yang dimarginalkan adalah jalan yang nyaman dan enak ditempuh. Peran yang saya lakukan adalah menjadi fasilitator untuk mempercepat proses pemberdayaan di tingkat pribadi, keluarga, komunitas dan masyarakat. Untuk itu penjelajahan terhadap sumber daya yang ada selain melakukan studi atas pekerjaan yang ada yang kemudian didokumentasikan dan didialogkan menjadi area hidup yang mengisi masa tua saya ini. Semoga Tuhan selalui melindungi saya sehingga saya bisa berjuang sampai titik napas terakhir saya.

Sekali lagi terima kasih atas penerimaan dan penghargaan ini. Saya menemukan rumah tempat saya kembali dari gempuran-gempuran masalah yang ada selain rumah Bapak dalam hati nurani saya.

AULA SOETANDYO DI FISIP UNAIR, 7 DESEMBER 2017

ESTHI SUSANTI HUDIONO

SEPERTI MATAHARI YANG SELALU TERBIT

“Ribuan kali” hatiku dilumpuhkan oleh ucapan, sikap dan tindakan orang lain
Namun aku tidak akan pernah menyerah
Aku selalu bangkit kembali
Seperti matahari yang selalu terbit kembali
Setelah berjalan mengelilingi tempat lain.

Dharmaku selesai aku jalankan
Kalau kematian datang menghampiri tubuhku
Tugasku adalah menjalankan perintah Tuhan
Yang aku dengar melalui nurani, buku, kitab dan suara ciptaan lainnya
Aku adalah ciptaan yang berhasrat menyatu dengan Pencipta.

Kasih dan dharma adalah peganganku
Dalam berjalan melewati waktu dan kemampuanku mewujudkan
Bersatu dan terikat padaNya adalah pilihanku
Itu yang mengendalikan takut dan khawatirku
Perjumpaan kita semakin memberi daya padaku, untuk melihat ilusi.

Kau bukan ilusi
Kau warna putih
Sang sejati
Kusembah dan kutundukkan kepalaku
UntukMu semata
Terpujilah Kau yang mau menyapaku.

Esthi Susanti Hudiono

See Also

Keluarga Besar DPP IPHI Dan DPP KAI Gelar Acara Halal Bihalal Bersama
Sugeng Tindak K. H. Mahfudz Ridwan
Ekspedisi 1.000 Jembatan Gantung Untuk Indonesia
Merenungi Kepergian KH Hasyim Muzadi
Sejarah Kota Jakarta Di Musium Kota Jakarta
Lukisan Mengisahkan Tentang Keadilan Di Depan Ruang Pengadilan
Lebih Mengenal Jakarta Melalui Kota Tua
Dialog Dengan Alam, Budaya, Dan Orang
Audiensi AHY Dengan DPD KAI DKI Jakarta
Turut Berduka Cita, Kiai Nafis Misbah Mustofa Berpulang
Silaturahmi Sowan Gus Mus
Transparansi Memberdayakan Masyarakat
Marhaenisme Dan Penutupan Sosial Dengan Pengucilan
Menuliskan Pengamalan Ilmu Seseorang
Analisis Hubungan Partnership Bung Karno
Syafii Maarif Penerus Gus Dur
Di Tanah Rantau, Keluarga Kudus Yogyakarta Akan Gelar Makrab Bersama Bupati
1 Oktober Hari Kesaktian Pancasila
Tua Bersinar, Bisakah Kita Lakukan?
Batik Print Yang Murah Meriah
Plumbon Dan Film Everything Is Illuminated
Perkawinan Jangan Dikorbankan Demi Politik Pemilihan
Kekuasaan Formal Dan Informal
Soto Bokoran Dan Bangkong
Koalisi Cikeas Usung Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni
jQuery Slider

Comments

Archives :2017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 5.006.042 Since: 07.04.14 | 0.4558 sec