YouTube Facebook Twitter RSS
18 Dec 2017, 0

Internasional

Parlemen Australia Setuju Pernikahan Sesama Jenis

Friday, 08 December 2017 | View : 16
Tags : Australia

siarjustisia.com-CANBERRA.

Australia selangkah lagi melegalkan pernikahan sesama jenis setelah RUU Pernikahan disahkan DPR (Parlemen). Australia akan menjadi negara ke-27 yang melegalkan pernikahan sesama jenis.

Dilansir dari BBC, Jumat (8/12/2017), mayoritas di Parlemen Australia setuju untuk mengubah UU Pernikahan dan memasukan mengenai pernikahan sesama jenis di dalamnya. Delapan hari sebelumnya senat Australia juga telah meloloskan RUU ini.

Rancangan Undang-Undang (RUU) untuk melegalkan pernikahan sesama jenis telah lolos di Senat Australia, namun dengan pekan sidang yang dibatalkan di tingkat DPR, anggota Parlemen tidak akan melanjutkan perdebatan hingga pekan depan.

Sebelumnya, Senat Australia juga telah meloloskan RUU ini. RUU tersebut disahkan tanpa amandemen, dengan 43 senator memilih 'ya' dan 12 lainnya memilih 'tidak'.

RUU tersebut kini akan diperdebatkan oleh DPR Australia saat anggota Parlemen kembali bersidang di Canberra minggu depan, yang akan membuka jalan bagi pernikahan sesama jenis untuk disahkan sebelum Natal.

Senator Partai Liberal, Dean Smith, yang menulis RUU tersebut, mengatakan kepada rekan Senat-nya -sebelum memberikan suara -bahwa walau RUU itu telah menempuh perjalanan yang sulit untuk mencapai titik ini, perdebatan mengenai RUU tersebut "baik untuk pembelajaran" semua warga Australia.

"Kita seharusnya tak takut akan hati nurani. Semakin banyak debat yang dilawan, semakin banyak kekuatan yang ditemukan untuk memperjuangkannya," sebutnya.

"Pada beberapa saat, kita harus merenungkan bagaimana kita bisa menghindari proses penyiksaan itu agar tidak terjadi lagi. Perdebatan ini bagus untuk pembelajaran Australia."

"Ini telah menjadi pembelajaran yang baik bagi kamar (Parlemen) ini dan juga akan bagus untuk pembelajaran anak-anak LGBTI (lesbian gay biseksual transeksual intraseksual) di seluruh negara kita."

Penny Wong, pemimpin Partai Buruh di Senat, mengatakan bahwa ini adalah hari bersejarah bagi semua warga Australia.

"Hari ini kita berdiri di puncak pencapaian yang luar biasa dan sebuah peristiwa bersejarah, dan kita berhenti sejenak, sejenak saja, untuk merenungkan tentang bagian dari apa kita ini," ujarnya.

"Kita adalah bagian dari aksi penerimaan, aksi inklusi, aksi penghormatan, aksi perayaan -suatu hari ketika Senat ini mengumumkan penerimaan kami terhadap saudara laki-laki dan perempuan LGBTI kami."

Mereka yang memilih menentang RUU tersebut adalah Eric Abetz, Fraser Anning, Cory Bernardi, Slade Brockman, Brian Burston, Matt Canavan, Concetta Fierravanti-Wells, Lucy Gichuhi, Chris Ketter, Barry O'Sullivan, Helen Polley, dan John Williams.

Senator Bridget McKenzie, James McGrath dan Pauline Hanson berada di ruangan tersebut namun tidak memberikan suara.

Para pendukung pernikahan sesama jenis termasuk Senator Smith dan Derryn Hinch mengingatkan rekan mereka untuk menghormati semua pandangan, termasuk mereka yang memilih Tidak di Senat dan dalam plebisit.

"Saya akan mengatakan satu hal kepada warga homoseksual Australia: berbaik hatilah kepada orang-orang yang menentangnya, para pemilih opsi Tidak," kata Senator Hinch.

"Karena ketika menyangkut Natal, dan Anda sedang duduk di meja makan malam Natal, dan Anda merasa terkejut karena ibu dan ayah Anda menentangnya, mereka berasal dari generasi yang memiliki pandangan berbeda. Jadilah sedikit toleran."

Tak ada amandemen yang diadopsi.

Senat menghabiskan lima hari bersidang untuk memperdebatkan RUU tersebut.

Beberapa senator mengemukakan kekhawatiran tentang beberapa bagian, terutama yang berkaitan dengan perlindungan agama, dan beberapa di antara mereka meminta amandemen RUU tersebut.

Beberapa senator konservatif ingin menciptakan dua definisi pernikahan, ketimbang mengubah yang sudah ada menjadi: penyatuan dua orang dengan mengesampingkan hal lainnya.

Beberapa lainnya menginginkan perlindungan agama dalam RUU Senator Smith yang memungkinkan pemuka agama untuk menolak menikahkan pasangan sesama jenis jika bertentangan dengan keyakinan mereka, yang juga berlaku untuk para penghulu sipil.

Jaksa Agung George Brandis memperkenalkan beberapa amandemen sehingga orang bisa berbicara bebas tentang pandangan tradisional mereka tentang pernikahan tanpa takut melanggar hukum.

Ketika perubahan itu diperdebatkan, ia mengatakan bahwa dirinya merasa hal itu tidak perlu, tetapi melakukannya dengan itikad baik untuk mereka yang peduli dengan perlindungan agama.

RUU tersebut akhirnya disahkan tanpa amandemen, namun anggota Parlemen di DPR Australia bisa kembali memperdebatkan beberapa masukan tersebut.

Jika versi amandemen dari RUU tersebut disahkan oleh DPR Australia, maka itu harus kembali ke Senat untuk dipertimbangkan kembali, tapi hal ini tidak mungkin terjadi.

Mayoritas anggota Parlemen di DPR diharapkan bisa mendukung RUU tersebut.

Hasil voting menimbulkan reaksi langsung di dalam Parlemen. Orang-orang bertepuk tangan hingga menyanyikan sebuah lagu. Hasil voting yang 'memenangkan' RUU Pernikahan tersebut menjadi akhir dari perdebatan terkait pernikahan sesama jenis selama satu dekade terakhir di Australia. 

"Hari untuk cinta, kesetaraan, dan penghormatan," kata Perdana Menteri Malcolm Turnbull. 

"Australia telah melakukannya," simpulnya.

Anggota parlemen meluapkan emosi kegembiraan mereka dengan saling berpelukan dan bernyanyi. "Saya, Anda, kita, adalah orang Australia," dendang mereka.

Diperkirakan beberapa hari ke depan Gubernur Jenderal Australia akan mengesahkan RUU menjadi Undang-undang.

Sebelum hasil voting keluar, banyak pendukung pernikahan sesama jenis berkumpul di luar gedung parlemen. Mereka di antaranya mantan perenang Olimpiade Ian Thorpe dan komedian lokal Magda Szubanski.

Namun, ada yang setuju tentu ada pula yang tak setuju. Wakil Perdana Menteri Barnaby Joyce sebagai salah satu politikus yang menolak pernikahan sesama jenis menyebut pernikahan pria dan wanita merupakan hubungan yang spesial dan bisa melahirkan seorang anak ke dunia.

Sebelumnya, seorang politikus konservatif Australia melamar kekasih prianya di sela-sela sidang parlemen. Lamaran ini diutarakan ketika Rancangan Undang-Undang (RUU) pernikahan sesama jenis akan segera disahkan oleh parlemen Australia.

Seperti dilansir Reuters, Senin (4/12/2017), Tim Wilson yang merupakan anggota parlemen Australia dari Partai Liberal ini melamar kekasihnya, Ryan Bolger, saat menghadiri sesi pembahasan RUU pernikahan sesama jenis di Gedung Parlemen di Canberra, Senin (4/12/2017) pagi.

RUU pernikahan sesama jenis itu telah diloloskan oleh Senat Australia, pekan lalu. Dari Senat, RUU itu lalu dibahas oleh kamar bawah parlemen atau House of Representative atau DPR Australia pekan ini. Diperkirakan RUU itu akan diloloskan oleh parlemen Australia pekan ini.

Baik Tim Wilson maupun Bolger telah saling bertukar cincin sejak beberapa tahun ini, namun keduanya sepakat menunggu hingga RUU pernikahan sesama jenis disahkan untuk menikah secara resmi. Tim Wilson melamar Bolger saat dia berbicara ke podium untuk menyampaikan pandangan yang mendukung RUU itu.

"Perdebatan ini telah menjadi lagu tema bagi hubungan kami," ucap Wilson dengan suara bergetar. Bolger hadir dalam sidang ini dengan duduk di balkon yang memang diperuntukkan bagi warga umum atau tamu parlemen.

"Dalam pidato pertama kami, saya menggambarkan ikatan kami dengan cincin yang melingkar di kedua tangan kiri kita, bahwa itu adalah jawaban untuk pertanyaan yang tidak bisa kami tanyakan. Jadi hanya tinggal satu hal yang harus dilakukan, Ryan Patrick Bolger, maukah kamu menikahi saya?" tanya Wilson yang mantan Komisioner HAM Australia.

Ryan Patrick Bolger yang mendengar pertanyaan itu, menjawab iya. Tepuk tangan pun membahana di dalam ruang sidang parlemen.

Pelaksana Tugas Ketua DPR, Rob Mitchell, lantas meminta jawaban Bolger itu dicatat di Hansard, yang merupakan verbatim sidang parlemen Australia. "Jawabannya 'iya', 'iya' yang menggema. Selamat. Baik sekali, rekan," ucap Mitchell.

Baik koalisi pemerintah Liberal-Nasional yang dipimpin Perdana Menteri Malcolm Turnbull maupun oposisi utama Partai Buruh telah menyatakan niat mereka untuk meloloskan RUU ini paling lambat pada 7 Desember ini. Namun jika muncul usulan amandemen terhadap isi RUU itu, diperkirakan waktu pengesahan RUU itu akan molor.

"Ini adalah isu keadilan yang fundamental. Masyarakat yang mempromosikan kebebasan dan kesetaraan di bawah hukum, harus memberikan hak untuk menikah bagi pria dan wanita gay. Pesan hari ini, untuk setiap gay di negara ini, adalah jelas. Kami menyayangi kalian, kami menghormati kalian, hubungan kalian diakui oleh Persemakmuran sebagai hal yang sah dan terhormat sama seperti yang lain," ucap PM Turnbull di parlemen.

Diloloskannya RUU ini akan menjadikan Australia sebagai negara ke-26 yang melegalkan pernikahan sesama jenis di dunia ini. Australia sempat menetapkan aktivitas homoseksual sebagai praktik ilegal hingga tahun 1997 lalu.

Mengacu pada data AFP, Jumat (8/12/2017), saat Gubernur Jenderal Australia mengesahkan RUU menjadi UU. Maka Australia akan menjadi negara ke-27 yang melegalkan pernikahan sesama jenis.

Berikut 26 negara yang telah lebih dulu melegalkan pernikahan sesama jenis: 

1. Argentina
2. Belgia
3. Brasil
4. Inggris (kecuali Irlandia Utara)
5. Kolombia
6. Denmark
7. Finlandia
8. Prancis
9. Islandia
10. Uruguay
11. Kanada
12. Irlandia
13. Israel 
14. Luxembourg
15. Meksiko
16. Belanda
17. Selandia Baru
18. Norwegia
19. Portugal
20. Spanyol
21. Afrika Selatan
22. Swedia
23. Taiwan
24. Amerika Serikat
25. Jerman
26. Malta

(bbc/afp/reuters)

See Also

Perwakilan Nahdlatul Ulama Dan Wahid Foundation Temui Dubes Amerika Serikat
Pidato Lengkap Donald Trump Saat Akui Yerusalem Ibu Kota Israel
Amerika Serikat Segera Memulai Proses Pemindahan Kedubesnya
Inggris Tidak Setuju Dengan Keputusan AS Soal Jerusalem
Amerika Serikat Akan Memulai Rencana Pemindahan Kedutaan Besarnya
Yordania Tolak Sikap Donald Trump Soal Yerusalem
Warga Korea Utara Gelar Perayaan Massal Uji Coba Rudal Hwasong 15
Mantan Penasihat Keamanan Presiden AS Didakwa Bohongi FBI Terkait Rusia
Militer Suriah Tembakkan Rudal Ke Jet Tempur Israel
Badai Hujan Dan Petir Berlanjut Di Melbourne
Warga AS Dipenjara Seumur Hidup Atas Pembunuhan Wanita Jepang
Kaisar Jepang Akihito Akan Turun Takhta 30 April 2019
Taliban Serang Kampus Di Pakistan
Arab Saudi Cegat Rudal Balistik Houthi Yaman
Mahasiswa Australia Semakin Lama Selesaikan Studi
Agnez Mo Raih Penghargaan Di MAMA 2017 Vietnam
Tidak Ada Korban WNI Di Teror Masjid Sinai
Pola Teroris Bunuhi Jemaah Salat Jumat Di Sinai
Korban Bom Masjid Di Sinai Bertambah Jadi 305 Orang
Serangan Udara Mesir Tewaskan Teroris Penyerang Masjid Sinai
Perlintasan Perbatasan Mesir-Gaza Batal Dibuka
Penembakan Pada Hari Thanksgiving Di Houston
Mesir Buru Pelaku Teror Di Masjid Sinai
Milisi Serang Masjid Di Mesir
Kuba Kompak Dengan Korea Utara
jQuery Slider

Comments

Archives :2017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 5.006.120 Since: 07.04.14 | 0.4431 sec