YouTube Facebook Twitter RSS
19 Jan 2018, 0

Internasional

Myanmar Bebaskan Dua Jurnalis Asing

Monday, 01 January 2018 | View : 8

siarjustisia.com-NAYPITAW.

Dua jurnalis dan dua staf lokal mereka akhirnya dibebaskan dari penjara Myanmar, dua bulan setelah penahanan mereka dengan tuduhan menerbangkan drone di atas gedung Parlemen.

Warga Singapura Lau Hon Meng, dan warga Malaysia Mok Choy Lin bekerja untuk kantor berita milik pemerintah Turki TRT ketika mereka ditahan pada 27 Oktober di Ibu Kota Myanmar, Naypitaw. Sebuah sidang pada Kamis (28/12/2017) telah membebaskan tuduhan terhadap mereka, penerjemah lokal mereka yakni Aung Naing Soe dan sopir bernama Hla Tin.

Mereka dijadwalkan bebas pada 5 Januari setelah menjalani 2 bulan hukuman penjara atas tuduhan menerbangkan drone (pesawat mini berkamera tanpa awak) secara ilegal tapi akhirnya dibebaskan lebih awal.

Pengacara mereka, Khin Maung Zaw, mengatakan otoritas setempat membatalkan tuduhan yang lebih serius yakni mengimpor drone tanpa izin dan pelanggaran imigrasi setelah menyimpulkan bahwa mereka tak bermaksud untuk membahayakan keamanan nasional Myanmar.

Zaw menyebut, Otoritas setempat juga ingin mempertahankan hubungan diplomatik yang baik dengan negara asal kedua jurnalis itu. Dalam kasus terpisah pada Rabu (27/12/2017), pengadilan memperpanjang penahanan dua jurnalis Reuters dan menetapkan jadwal sidang mereka pada 10 Januari untuk tuduhan pelanggaran terhadap rahasia negara.

Wa Lone dan Kyaw Soe Oo ditahan pada 12 Desember atas tuduhan mendapatkan 'dokumen rahasia penting' dari dua petugas polisi.

Petugas polisi itu bekerja di negara bagian Rakhine, di mana kekerasan yang dituduhkan pada militer setempat membuat 630 ribu Muslim Rohingya meninggalkan kampung halaman mereka untuk hijrah ke Bangladesh. Tuduhan itu bisa dijerat hukuman hingga 14 tahun penjara.

Kelompok HAM dan media telah mengkritik Pemerintahan sipil yang baru yang dipimpin oleh peraih penghargaan Nobel Perdamaian, Aung San Suu Kyi, karena terus menggunakan hukum era-kolonial untuk mengancam dan memenjarakan jurnalis. Aturan seperti itu digunakan secara luas oleh junta militer yang menguasai Myanmar untuk mengatasi kritik dan media. (ap)

See Also

Bom Ganda Bunuh Diri Tewaskan 38 Orang Di Baghdad
Serangan Gereja Di Kairo Tewaskan 10 Orang
Stasiun Kereta Baru Di Yerusalem Akan Dinamai Donald John Trump
Ledakan Di Kantor Berita Afghanistan
Israel Pesan Ratusan Jet Temput Berteknologi Mutakhir
Kaisar Jepang Akihito Berulang Tahun
128 Negara Anggota PBB Tolak Keputusan Donald Trump Tentang Yerusalem
Tekanan Berat Bintang K-pop Shinee Kim Jong-hyun
Wakil PM Inggris Diminta Mundur Terkait Skandal Pornografi
Turki Sesalkan Veto AS Soal Yerusalem
Perwakilan Nahdlatul Ulama Dan Wahid Foundation Temui Dubes Amerika Serikat
Parlemen Australia Setuju Pernikahan Sesama Jenis
Pidato Lengkap Donald Trump Saat Akui Yerusalem Ibu Kota Israel
Amerika Serikat Segera Memulai Proses Pemindahan Kedubesnya
Inggris Tidak Setuju Dengan Keputusan AS Soal Jerusalem
Amerika Serikat Akan Memulai Rencana Pemindahan Kedutaan Besarnya
Yordania Tolak Sikap Donald Trump Soal Yerusalem
Warga Korea Utara Gelar Perayaan Massal Uji Coba Rudal Hwasong 15
Mantan Penasihat Keamanan Presiden AS Didakwa Bohongi FBI Terkait Rusia
Militer Suriah Tembakkan Rudal Ke Jet Tempur Israel
Badai Hujan Dan Petir Berlanjut Di Melbourne
Warga AS Dipenjara Seumur Hidup Atas Pembunuhan Wanita Jepang
Kaisar Jepang Akihito Akan Turun Takhta 30 April 2019
Taliban Serang Kampus Di Pakistan
Arab Saudi Cegat Rudal Balistik Houthi Yaman
jQuery Slider

Comments

Archives :20182017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 5.211.612 Since: 07.04.14 | 0.7207 sec